Ustadz Rahmat Abdullah vs Dr. Salim Segaf Al-Jufri 2

- Kajian Islam Tarakan

Ustadz Rahmat Abdullah vs Dr. Salim Segaf Al-Jufri (#bag. 2)

Ketika akhirnya saya berhasil masuk LIPIA di tahun berikutnya, saya punya referensi lebih luas dalam ilmu keislaman. Dua tahun menyelesaikan program dasar bahasa Arab (i'dad lughawi) plus penyempurnaannya (takmili) membuat saya punya banyak referensi kitab dan sosok. Minimal sudah bisa berkomunikasi pakai bahasa Arab dengan dosen. Lha iya lah, kan kuliahnya pakai bahasa Arab, ujian juga pakai bahasa Arab.

Nah, di takmili itulah saya lebih dekat dan mengenal langsung sosok Dr. Salim Segaf Al-Jufri. Walaupun sebelumnya saya sudah sering dengar nama beliau, dan sesekali ikut tatsqif dalam liqo' tanzimi dengan beliau. Beliau mengajar ushul fiqih dan dengan bantuan beliau lah saya bisa lolos masuk fakultas syariah. Di fakultas syariah, beliau mengajar kurang lebih 4 semester, khususnya fiqih muamalat.

Sosok Dr. Salim ini punya banyak pengaruh dalam perjalanan pemikiran saya. Beliau lah yang untuk pertama kali menjelaskan bahwa ilmu fiqih itu penting untuk dipelajari, apalagi kita berada di tengah jamaah pergerakan.

Siapa saja tokoh empat mazhab dan bagaimana terjadinya khilafiyah para ulama fiqih, menjadi bahan diskusi kita di kelas setiap hari. Setiap satu pendapat di kalangan ulama, harus dicarikan rujukan, siapa yang punya pendapat itu dan apa dalil yang melandasi hujjahnya. Dan yang paling penting dari semua itu, kita diajari bagaimana kita mengenal banyak ulama dengan ragam pendapat yang berbeda-beda, tapi tetap jatuh hormat dengan mereka.

Sesuatu yang selama ini tidak pernah kita dapat di liqo'an anak awalan. Selain murabbinya nggak paham fiqih, biasanya mereka bilang bahwa masalah ini silahkan tanyakan kepada para masyaikh yang senior, lulusan dari Timur Tengah. Beberapa masyaikh yang dimaksud itu misalnya Dr. Daud Rasyid, Dr. Mushlih Abdul Karim, Ustadz Hasib yang punya Ma'had Al-Hikmah daerah Bangka, dan beberapa Lc Lc dari Timur Tengah lain.

Lucunya, ketika saya bertanya kepada para 'masyaikh' itu, biasanya mereka melempar lagi ke Dr. Salim Segaf Al-Jufri, yang mereka anggap lebih senior. Tapi ketemu Dr. Salim itu bukan jatah anak tarbiyahan rendahan. Yang bisa punya akses kepada beliau cuma kelas para murabbi yang tinggi, itu pun kalau lagi punya kasus biasanya. Sedangkan kelas-kelas cere macam saya biasanya tidak dikasih akses.

Biasa lah, kalau pakai jalur tanzim (struktural) memang jadi susah birokrasinya. Lha, di LIPIA ini justru malah Dr. Salim mengajar saya tiap hari, 5 kali dalam seminggu x 50 menit, selama 4 semester. Di kelas, sudah bertemu muka langusng, di luar kelas saya juga bebas keluar masuk ke ruang dosen khususnya kantor beliau, bahkan ke rumahnya juga. Kalau saya bolos atau ngabur ke maqshof (kantin), pasti beliau menanyakan saya kemana.

Mata kuliah fiqih di LIPIA itu ada setiap hari, 5 hari dalam seminggu, dengan durasi 50 menit. Ini jauh lebih banyak dibandingkan ikut liqo' seminggu sekali dengan ustadz Rahmat Abdullah, yang jarang membahas fiqih, bahkan beliau jarang hadir di liqo' mingguan, karena kesibukan.

Beliau juga yang mengharuskan kita membaca kitab fiqih klasik (Bidayatul Mujtahid) di kelas. Tiap mahasiswa dapat giliran membacakan dengan suara keras dan yang lain mendengarkan. Kalau ada yang kurang dimengerti, beliau berhenti sebentar untuk memberikan penjelasan. Tapi setelah itu, kembali lagi ke kitab.

Fiqih perbandingan mazhab saya kenal pertama kali dari beliau, selain juga karena memang Fakultas Syariah di LIPIA ternyata jurusan Perbandingan Mazhab.

Seusai lulus Syariah, beliau pula yang meminta saya untuk menjadi staf beliau di Pusat Konsultasi Syariah. Tugas saya selain mendirikan website syariahonline.com, juga menjawab berbagai pertanyaan. Beberapa dari jawaban yang saya tulis sempat pula saya terbitkan menjadi buku. Cuma penulisnya tetap dengan nama beliau, nama saya termuat menjadi editor saja.

Saat Beliau menjadi duta besar Indonesia untuk Saudi Arabia dan Oman, secara birokrasi kenegaraan tentu sulit bisa punya akses ketemu beliau. Wajar lah, namanya juga pejabat negara.

Saya pun tidak merasa perlu sok akrab mencari kesempatan bertemu beliau, maklum dengan kesibukannya dan tahu diri, bahwa saya bukan siapa-siapa.

Eh, tiba-tiba suatu hari salah satu ajudan beliau menelpon saya, bilang bahwa Beliau kebetulan pas lagi pulang ke Indonesia, saya diminta menghadap. Saya bilang, untuk urusan apa kok tiba-tiba pak Dubes ngurusin saya. Sang ajudan tidak bisa memberi penjelasan. Maka saya bilang, kalau tidak jelas urusannya, saya ndak mau datang menghadap. Mana no hp beliau, biar saya tanya langsung, ada urusan apa kok saya disuruh menghadap.

Tiba-tiba hp saya berdering dan terdengar suara Beliau langsung,"Assalamu 'alaikum ya Sarwat, hayakallah, Keif hal?. Bukrah naltaqi fi funduk, Funduk Sultan, indal fathur sa'ah sittah, ma ra'yukum?". Waduh, pak Dubes nelpon saya langsung, ngajakin makan pagi pula. Masak mau nolak perintah guru.

"Insyaallah, bukrah saah sittah", terpaksa saya jawab lah. Fi hajah? Ayyu khidmah?, saya tanya lagi penarasan. "Hunaka Asykhash min Su'udiyah, uridu an uarrifak lau takarramtum", jawab beliau dengan suara berat khasnya tapi santun. "Ahlan, ya syaikh, syukran", balas saya.

Ternyata maksud beliau mengundang saya makan pagi di Hotel Sultan itu ingin menawarkan bantuan para pengusaha dari Saudi yang mungkin bisa membangunkan pesantren atau kampus untuk saya. Namun karena saat itu saya sudah selesai melakukan tukar guling tanah dan bangunan wakaf Yayasan Daarul-Uluum , maka tawaran itu tidak jadi saya terima.

Dan saat itu beliau sampaikan untuk suatu ketika kita bisa mendirikan semacam LIPIA sendiri, dengan mendatangkan para dosen dari Timur Tengah, khususnya Suriah dan Mesir. Untuk gaji mereka, beliau bilang sudah punya nilai besarannya. Nanti kalau tugas jadi dubes sudah selesai, kita bangun bersama ya.

Sayangnya, usai jadi dubes, beliau malah jadi Menteri Sosial dan jadi tambah sibuk. Sempat sekali bertemu di suatu masjid saat saya jadi khatib Jumat. Beliau menolak ketika saya minta beliau saja yang jadi khatibnya. Malah beliau meminta saya khutbah, beliau mau mendengarkan saja. Sebab menteri itu tidak perlu banyak bicara, cukup bekerja dan mendengarkan nasihat ulama, kata beliau kepada saya. Nggak tahu becanda atau betulan.

Walah, kok jadi kebalik begini ya. Perasaan saya ini murid dan beliau guru, lha kok kenapa sekarang saya ngajar dan beliau jadi murid. Uh, rasanya nggak enak banget.

(bersambung lagi . . . )

Ustadz Rahmat Abdullah vs Dr. Salim Segaf Al-Jufri 2 - Kajian Islam Tarakan

Sumber FB : Ahmad Sarwat
11 April 2018 · Daerah Khusus Ibukota Jakarta ·

1. Ustadz Rahmat Abdullah vs Dr. Salim Segaf Al-Jufri (#bag. 1)
2. Ustadz Rahmat Abdullah vs Dr. Salim Segaf Al-Jufri (#bag. 2)
3. Dari Dakwah Keras ke Era Tarbiyah (bag. 3, habis)

©Terima kasih telah membaca Blog Ardiz Borneo dengan judul "Ustadz Rahmat Abdullah vs Dr. Salim Segaf Al-Jufri 2". Semoga betah di Blog Ardiz Borneo®

Artikel Terkait